"RADIO masih tetap survive meski sudah ada media lain. Ini tidak lepas dari biaya murah dan kecepatan akses yang nyaris dikalahkan televisi dengan model live dan streaming internet. Walaupun begitu, 10 tahun lalu radio masih merupakan media yang paling cepat memberikan informasi kepada masyarakat."

        Hal itu disampaikan dosen prodi Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Yohanes Widodo SSos MSc pada Workshop #sensEIGHTion : Strive to be an Announcer, Atma Jaya Radio (AJR) di Ruang Video Conference lantai 4 Perpustakaan UAJY, Jumat (9/9).
       Pada acara yang didukung SKH Kedaulatan Rakyat ini, hadir juga pembicara lain, Lusi Laksita. Acara ini digelar untuk merayakan HUT ke-8 AJR, yang dirangkai lomba penyiar radio, diikuti 30 peserta, Kamis (8/9) lalu.
“Kemampuan radio untuk tetap survive, tidak lepas dari programnya yang mampu menjangkau target spesifik dan segmen yang relatif sempit. Radio juga mampu mengolah isu lebih dalam melalui talkshow dan bisa didengarkan di mana pun.
        Apalagi radio memiliki perspektif lokal yang kuat dan kental seperti penggunaan bahasa Jawa atau memutar musik campursari,” jelas Widodo yang juga Wakil Dekan II. Menurut laki-laki yang akrab dipanggil Mas Boi ini, radio juga sangat personal karena mampu memberikan sentuhan emosi secara pribadi kepada pendengarnya. Penyiar seolah-olah sedang bicara kepada pendengarnya. “Radio is sound, ini berkaitan erat dengan pembangunan theatre of mine dari pendengarnya. Selain itu, media ini memiliki kemampuan untuk memberikan akses informasi bagi masyarakat yang tidak bisa membaca. Bisa juga radio is hand free, sambil mendengarkan radio kita tetap bisa beraktivitas,” ungkap Widodo. (M-2)-k

 


Comments




Leave a Reply